Letak geografis, Kabupaten Wakatobi berada dalam gugusan
pulau-pulau di jazirah Tenggara Kepulauan Sulawesi Tenggara, tepatnya di
sebelah Tenggara Pulau Buton. Secara astronomis terletak pada bagian
selatan garis khatulistiwa, membentang dari Utara ke Selatan pada posisi
garis lintang 5º12’ –6º25’ Lintang Selatan (sepanjang kurang lebih 160
km) dan garis bujur 123º20’ – 124º39’ Bujur Timur (sepanjang kurang
lebih 120 km),
Posisi Geostrategis,
Wilayah
Kabupaten Wakatobi diapit oleh perairan laut Buton, laut Banda dan laut
Flores. Dengan demikian, maka batas-batas administratif daerah
Kabupaten Wakatobi berada pada wilayah perairan laut, sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah perairan laut Kabupaten Buton dan Buton Utara
- Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores
- Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah perairan laut Kabupaten Buton.
![]() | |
Luas Wilayah
Luas wilayah Kabupaten Wakatobi adalah sekitar 18.377 km², terdiri dari daratan seluas ± 823 km² atau hanya sebesar 3%, dan luas perairan ± 17.554 km2 atau
sebesar 97 % dari luas Kabupaten Wakatobi adalah perairan laut. Secara
administratif Kabupaten Wakatobi terdiri dari 8 wilayah kecamatan, 75
desa dan 25 kelurahan. Wilayah kecamatan terluas adalah kecamatan
Wangi-Wangi dengan luas 241 km² (29,40%) yang sekaligus merupakan
wilayah ibokota Kabupaten, sedangkan kecamatan yang wilayahnya paling
kecil adalah kecamatan Kaledupa, yaitu seluas 45,50 km² (5,53%),
selengkapnya disajikan pada Tabel 1 sebagai berikut :
Tabel 1. Luas Wilayah Daratan Kabupaten Wakatobi Menurut Wilayah Administrasi Kecamatan, Tahun 2011.
| Sumber : Kabupaten Wakatobi Dalam Angka, 2011 |
Topografi
Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulau karang yang sebagian
besar (70%) memiliki topografi landai, terutama dibagian selatan pulau
Wangi-Wangi, bagian utara dan selatan pulau Kaledupa, bagian Barat dan
Timur pulau Tomia, serta wilayah bagian selatan pulau Binongko, dengan
ketinggian tempat berkisar antara 3 – 20 meter diatas permukaan laut.
Sedangkan bentuk topografi perbukitan, berada di tengah-tengah pulau
dengan ketinggian berkisar antara 20-350 m dpl.
Selain bentangan pulau-pulau kecil, relief dan topografi, di
Kabupaten Wakatobi juga membentang Gunung Tindoi di Pulau Wangi-Wangi,
Gunung Pangilia di Pulau Kaledupa, Gunung Patua di Pulau Tomia dan
Gunung Watiu’a di Pulau Binongko. Pada puncak gunung di empat pulau
besar tersebut, terdapat situs peninggalan sejarah berupa benteng dan
makam yang sangat erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di
Kabupaten Wakatobi maupun sejarah perkembangan kejayaan Kesultanan
Buton, Tidore, dan Ternate. Situs sejarah dimaksud ialah Benteng Liya,
Benteng Tindoi, Benteng Patu’a, dan Benteng Suosuo serta peninggalan
benda-benda purbakala lainnya. Kesemuanya merupakan aset daerah yang
sangat berharga, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
sebagai obyek wisata budaya, baik nasional maupun internasional.
Hidrologi dan Geologi
Secara umum di Kabupaten Wakatobi tidak terdapat sungai yang mengalir
sepanjang tahun. Sumber mata air umumnya berasal dari air tanah (ground water)
dari wilayah perbukitan dan gua-gua karst yang oleh penduduk setempat
disebut “Tofa/Loba/Lia”. Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti DAS Posalu,
Banduha-nduha, dan Waginopo di Kecamatan Wangi-Wangi mempunyai peranan
penting pada ketersediaan air tanah. Dalam konteks ini, peranan vegetasi
terutama hutan sangat penting dalam konservasi air tanah. Permukaan
air terutama pada gua-gua karst dan sumur penduduk banyak dipengaruhi
oleh naik turunnya muka air laut, memberikan indikasi tentang pentingnya
perlindungan daerah pantai dari pengaruh abrasi.
Berdasarkan peta geologi Lembar Kepulauan Tukang Besi Sulawesi
Tenggara skala 1 : 25.000 tahun 1994 menunjukkan bahwa secara umum
formasi geologi Wakatobi dikelompokkan dalam formasi geologi Qpl dengan
jenis bahan induk batu gamping koral. Jenis tanah yang tersebar pada
beberapa tempat di empat pulau Kabupaten Wakatobi ialah jenis organisol,
alluvial, grumosol, mediteran, latosol, serta didominasi oleh
podsolik. Formasi geologi batuan daratan dengan bahan induk batu
gamping jenis koral dan dominasi tanah podsolik, secara umum
mengindikasikan kesuburan tanah yang rendah akibat pH dan bahan organik
rendah. Terkait hal tersebut, pemerintah daerah akan mencanangkan
program pertanian terpadu yang berbasis ekologi (integrated ecofarming).
Iklim dan Musim
Menurut klasifikasi Schmidt-Fergusson, iklim di Kepulauan Wakatobi
termasuk tipe C, dengan dua musim yaitu musim kemarau (musim timur:
April–Agustus) dan musim hujan (musim barat: September–April). Musim
angin barat berlangsung dari bulan Desember sampai dengan Maret yang
ditandai dengan sering terjadi hujan. Musim angin timur berlangsung
bulan Juni sampai dengan September. Peralihan musim yang biasa disebut
musim pancaroba terjadi pada bulan Oktober-November dan bulan April-Mei.
Berdasarkan pencatatan dari Stasiun Meteorologi Kls III Betoambari,
curah hujan di Kepulauan Wakatobi 10 tahun terakhir berkisar antara
0,4-288,2 mm (Gambar 5), curah hujan tertinggi terjadi pada bulan
Desember dengan rata-rata mencapai 19,51 mm (Gambar 6). Jumlah hari
hujan mengikuti pola jumlah curah hujan dengan kisaran antara 1-19 hari
hujan. Suhu udara maksimum berkisar 31,5-34,40C dan suhu udara minimum berkisar pada 22,3-24,90C, dengan kisaran suhu rata-rata antara 23,7-32,40C. Kelembaban udara antara 71-86%

Tidak ada komentar:
Posting Komentar